Daftar Blog Saya

Senin, 23 Januari 2012

Ayam hutan hijau Ayam hutan hijau


Ayam hutan hijau
Ayam hutan hijau adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak, dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian ayam peliharaan yang ada di Nusantara. Ayam ini disebut dengan berbagai nama di berbagai tempat, seperti canghegar atau cangehgar (Sd.), ayam alas (Jw.), ajem allas atau tarattah (Md.).
Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, merujuk pada warna dan asal tempatnya.

Pemerian

Burung yang berukuran besar, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60 cm pada ayam jantan, dan 42 cm pada yang betina.
Jengger pada ayam jantan tidak bergerigi, melainkan membulat tepinya; merah, dengan warna kebiruan di tengahnya. Bulu-bulu pada leher, tengkuk dan mantel hijau berkilau dengan tepian (margin) kehitaman, nampak seperti sisik ikan. Penutup pinggul berupa bulu-bulu panjang meruncing kuning keemasan dengan tengah berwarna hitam. Sisi bawah tubuh hitam, dan ekor hitam berkilau kehijauan. Ayam betina lebih kecil, kuning kecoklatan, dengan garis-garis dan bintik hitam.
Iris merah, paruh abu-abu keputihan, dan kaki kekuningan atau agak kemerahan

Penyebaran dan Kebiasaan

Ayam yang menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3b/Stavenn_Gallus_varius_00.jpg/240px-Stavenn_Gallus_varius_00.jpg

Ayam betina
Pagi dan sore ayam ini biasa mencari makanan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan tajuk hutan. Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.
Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2 – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan ungulata besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam-hutan Hijau diketahui senang membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu.
Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 – 4 m di atas tanah.
Ayam hutan hijau berbiak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan.
Tak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Anak ayam hutan ini telah mampu terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam-hutan Hijau mampu terbang lurus hingga beberapa ratus meter; bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.
Pagi dan petang hari, ayam jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa sampai belasan detik, semakin lama semakin panjang jedanya. Kokok ini biasanya segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang tinggal berdekatan. Ayam betina berkotek mirip ayam kampung, dengan suara yang lebih kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar tempat tidurnya.

 

Ayam hutan dan manusia

Ayam hutan hijau adalah kerabat dekat leluhur ayam peliharaan, ayam hutan merah (Gallus gallus). Ayam hutan merah yang menyebar luas mulai dari Himalaya, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, hingga ke Sumatra dan Jawa. Pada pihak lain, ayam-hutan hijau tersebar di Jawa, Bali dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.
Ayam hutan dari Jawa Timur dikenal sebagai sumber tetua untuk menghasilkan ayam bekisar. Bekisar adalah persilangan antara ayam hutan hijau dengan ayam kampung. Bekisar dikembangkan orang untuk menghasilkan ayam hias yang indah bulunya, dan terutama untuk mendapatkan ayam dengan kokok yang khas. Karena suaranya, ayam bekisar dapat mencapai harga yang sangat mahal. Bekisar juga menjadi lambang fauna daerah Jawa Timur.

Partridge green
Partridge green is the name of a type of bird flocks of the tribe including Phasianidae, family namely chickens, quail, peacocks, and sempidan. Partridge is believed to be the ancestors of most domesticated chickens that exist in the archipelago. Chicken is called by various names in various places, such as canghegar or cangehgar (Sd.), chicken base (Jw.), ajem allas or tarattah (Md.).
Has the scientific name Gallus varius (Shaw, 1798), the chicken is in English known as the Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail or Green Javanese Junglefowl, referring to the color and place of origin.
Descriptions of the
Birds that are large, the total body length (measured from the tip of beak to tip of tail) of about 60 cm on a rooster, and 42 cm in the females.
Comb on a rooster is not serrated, but the rounded edges; red, with a bluish color in the middle. The feathers on the neck, nape and shiny green coat with the edge (margin) black, look like fish scales. Closing a hip length tapered feathers golden yellow with a black center. The bottom side of a black body, and tail glossy greenish black. Hens are smaller, brownish yellow, with stripes and black spots.
Iris red, whitish-gray beak, and legs yellowish or slightly reddish
Deployment and Habits
Liked chickens and berpadang open area of grass, forest edges and areas with low hills near the coast. Chicken-Green forests are known to spread limited to Java and Nusa Tenggara islands, including Bali. In West Java was recorded live to a height of 1,500 m asl, in East Java to 3,000 m above sea level and in Lombok to 2,400 m above sea level.
Hen
Morning and afternoon chicken is usually forage in open spaces and grassy, ​​while on a summer shelter in the shade of the forest canopy. Forest Green Chicken-eating various seeds, shoots of grass and leaves, various insects, as well as various types of small animals such as spiders, worms, frogs and small lizards.
Chicken is often seen in groups, 2-7 tail or more, forage in the grass near a collection of large ungulates such as buffalo, cow or bull. In addition to hunting insects disturbed by large animals, the Chicken-Forest Green is known to disassemble and happy scavenging herbivores dirt to look for seeds that have not been digested, or insects that eat the waste.
At night, the partridge was sleeping in a bamboo grove not far apart, shrubs, palm fronds or forests at an altitude of 1.5 to 4 m above the ground.
Green forest chicken-breeding between October-November in West Java and approximately March to July in East Java. Made in a simple nest on the grass-covered ground, in the shadow of a bush or tall grass. Eggs 3-4 whitish grains.
Unlike his descendants chicken, Chicken-Green Forest clever fly. Chicks of this forest has been able to fly to avoid the danger in a few weeks. Adult chickens are able to fly immediately and vertically into a nearby tree branch at a height of 7 m or more. Flying horizontally, Chicken-Forest Green is able to fly straight up to several hundred meters; even believed to be capable of flying from island to island across the sea adjacent.
Morning and evening, the cock crowed with a distinctive voice, loud nasal. At first, sound check-kreh .. several times in a row like the sound of sneezing, followed by the sound check kreh-ki .. 10-15 times, at intervals of several to tens of seconds, the longer the longer jedanya. Crowing is usually immediately followed or met by one or several males who live nearby. Hen squawking like a chicken, with a smaller sound-loud, in the morning when going out of his bed.
Partridge and human
Partridge green is a close relative of the ancestral domesticated chicken, red jungle fowl (Gallus Gallus). Red jungle fowl widespread ranging from the Himalayas, southern China, Southeast Asia, up to Sumatra and Java. On the other hand, chicken, green forests spread across Java, Bali and Nusa Tenggara islands other.
Chicken forests of East Java is known as a source of elders to produce chicken bekisar. Bekisar is a cross between chicken green forest with chicken. Bekisar developed people to produce a beautiful decorative chicken feathers, and especially to get a chicken with a typical crow. Because his voice, chicken bekisar can achieve a very high price. Bekisar also became symbols of local fauna of East Java.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar